Tampilkan postingan dengan label Traveria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveria. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2011

Bersantai Sejenak di Kebun Wisata Pasirmukti Citeureup- Bogor

Okay...!! Mungkin ini bukan untuk para backpacker, karena tempat ini lebih cocok untuk wisata keluarga dan acara kumpul-kumpul (gathering). Namun tempat ini dapat menjadi alternatif jalan-jalan hemat: sediakan budget sekitar Rp 50.000 - 300.000,- dan anda dapat menikmati berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh Kebun Wisata Pasirmukti, yang berlokasi di Citeureup (Bogor), yang hanya berjarak sekitar 1 jam dari Jakarta. Jadi Anda bisa "pagi berangkat, siang main, sore pulang.

Kebun Wisata Pasirmukti yang memiliki luas sekitar 80 ha dengan fungsi utama sebagai lokasi agrowisata, Pasirmukti juga memfasilitasi berbagai acara outbound, ada fasilitas combat battle fields, flying fox, dan sebagainya. Mungkin untuk menyeimbangkan dengan biaya maintenance juga. Saya lihat ada banyak sekali mandor kebun dan satpam yang bertugas di beberapa titik lokasi.

Di sini ada pula peternakan sapi, ayam, bebek, marmut, dan sebagainya. Hmm, bukan peternakan betulan sih. Karena fungsi sebenarnya hanya untuk memperkenalkan binatang ternak pada anak-anak, jadi skalanya juga masih kecil. Keponakan saya yang berusia 2 tahun tampak senang sekali dapat mengelus kambing, marmut, hewan-hewan lainnya, dan memberi makan mereka. Ada landak juga! Ternyata landak itu lumayan besar ya...!!

Udaranya juga bersih dan enak buat leyeh-leyeh (leha-leha.red) Sayangnya karena saat ini masih musim hujan, sungainya terlihat keruh, padahal katanya kalau cuaca lagi normal sungainya akan terlihat jernih sekali.

Di sini terkenal dengan jeruk lemong cui-nya. Kenapa disebut "lemong"? Kayanya sih agak-agak terpengaruh lafal Perancis kali ya?? Hehehe...

Pasirmukti juga menyediakan penginapan berupa bungalow dengan range harga antara Rp 1,1 juta - Rp 2,4 juta permalam, dengan kapasitas 5 hingga 15 orang. Benar-benar cocok untuk acara gathering!

Fasilitas yang ada disana adalah Orchid Garden, Fish Pond, Fruit Plants in Pot, Orchard Garden,Mud Field Arena, Minahasa Cottage, Resto Bakudapa, Camping Ground, Wale Tonaas & Menara Klabat.

Ini info kontaknya cuy kalau mau detail yang lebih jelas biar u g ribet lagi naya2 sama saya,,,hahhaha

Kebun Wisata Pasirmukti
Jl. Raya Tajur Pasirmukti km. 4 Citeureup - Bogor
Tel. (021) 8794 3864/65, Fax. (021) 8794 3866 E-mail : pasirmukti@cbn.net.id

Kantor Jakarta: Jl. S. Iskandar Muda 2A, Arteri Pondok Indah, Jakarta - Selatan
Tel. (021) 739 8808, Fax. (021) 739 8886 E-mail : kebun@pasirmukti.co.id

Penulis: Fajri.red

Sutan Sjahrir; Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan

Buku ini memberi kita gambaran mengenai kehidupan dan perjuangannya menuju Indonesia merdeka. H. Rosihan Anwar dan Ignas Kleden menguraikan konteks sejarah pada foto-foto, yang untuk sebagiannya belum pernah dipublikasikan.

Tersedia di Gramedia ;
Harga Rp 87.000,-

Berbeda Tapi Setara: Saparinah Sadli

Apa saja isu paling mutakhir di bidang studi perempuan? Masalah-masalah perempuan apa saja yang paling khas Indonesia?

Adakah perbedaan antara kajian perempuan di Indonesia dengan di Negara-Negara lain? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dijawab Prof. Saparinah Sadli melalui buku ini. Dengan bahasa yang mudah dicerna, semua ia tinjau secara komperehensif, luas dan mendalam.

Tersedia di Gramedia;
Harga Rp 86.000,-

Rabu, 23 Februari 2011

The Final Frontier World Tour on Jakarta

“In the mist,dark figures move and twist,was all this for real,or just some kind of hell,6-6-6 the Number of the Beast,Hell and fire was spawned to be released.”

Begitulah sepenggal lirik lagu yang sangat populer era 80an berjudul “The Number of The Beast” dari band Heavy Metal legendaris, Iron Maiden. setelah penantian panjang selama 30 tahun lebih, akhirnya Iron Maiden berhasil menggempur Jakarta lewat konser yang bertajuk The Final Frontier World Tour yang digelar di Pantai Karnaval Ancol, di bulan Febuari. Ini merupakan penampilan perdana Iron Maiden di tanah air.

Tepat pukul 21.00 WIB, tidak diiringi rintik hujan, langit cerah dan tampak bulan dengan bentuk sempurnanya, pertunjukkan pun dimulai lewat tembang anyar mereka, “Satelite 15…The Final Frontier”, lalu disambut oleh gemuruh penonton dan salam tiga jari mereka  yang mengacung ke atas.

Hits kedua pun dilantunkan, “El Dorado” dan hingga hits ke 5 suasana penonton masih terbilang senyap, mungkin dikarenakan tembang-tembang baru tersebut belum begitu familiar di telinga para penonton.

Baru, sekitar 30.000 penonton mulai panas dan berjingkrak ketika band yang baru saja memenangi penghargaan Grammy Award’s lewat kategori Best Metal Performance itu melantunkan lagu-lagu andalan mereka di periode 1980-1990an. Tembang-tembang lawas mereka  seperti “Fear of The Dark, “Wasted Years”, “The Trooper”, “2 Minutes to Midnight”, “The Number of The Beast”,dll mampu menyihir penonton yang telah memadati area konser sejak sore hari.

“Scream for me Jakarta,” teriak vokalis mereka Bruce Dickinson dan disambut riuhan penonton yang sudah panas malam itu, lalu hits “Running Free” mereka langsung di bawakan dan sekaligus menjadi lagu penutup pertunjukan mereka malam itu. Bruce yang tampil cukup atraktif pun berucap akan kembali lagi ke Jakarta suatu saat nanti.

Iron Maiden terbentuk pada tahun 1975, dan berhasil menjual lebih dari 80 juta albumnya di seluruh dunia. Band yang beranggotakan Bruce Dickinson (vokal), Nicko McBrain (drum), Steve Harris (bass), Dave Murray, Adrian Smith, dan Janick Gers (gitar) juga melanjutkan konsernya Minggu (20/2) di Lotus Pond, Garuda Wisnu Kencana, Bali. Dalam tur dunianya ini, mereka menggunakan pesawat Boeing 757 pribadinya dan dipiloti sendiri oleh Bruce.

Penonton yang datang pada malam itu tidak hanya dari Jakarta, namun dari kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Medan, Surabaya, Malang, Makassar, dan juga dari berbagai negara.
“Saya lihat di sini ada orang Indonesia, Malaysia, Australia. Ada yang beragama Islam,Kristen dan lainnya. Tapi semua berkumpul di sini dan melupakan semua perbedaan yang ada,” teriak Bruce, yang seakan juga ditunjukkan lewat sebuah tulisan bermakna pesan damai di atas pintu masuk arena konser, “Biar rocker tapi damai”. Yeah..Up the Iron’s…!!!


Penulis: Imron   I   Editor: Indra Nst   I   Admin: FA

Setu Babakan Sebagai Tujuan Wisata Situs Betawi Dengan Tampilan Yang Khas Dan Sederhana

Terletak di daerah Srengseng Sawah Jakarta Selatan, Setu Babakan merupakan alternatif tepat untuk tempat pelepas penat warga kota yang telah jenuh dengan kesibukan pekerjaan sehari-hari. Gerbang bang Pitung dipakai sebagai pintu masuk utama dari wisata ini. Dikelilingi oleh para penjaja makanan  di pinggiran danau para pengunjung dapat duduk berjejer di bangku panjang sambil menikmati kerak telor, karedok, soto betawi dan makanan khas betawi lainnya.

Suasana di tepi danau ini sangat nyaman dan terasa sejuk dengan adanya pohon-pohon rindang yang berjejer di sekitar danau. Tidak hanya itu,  areal seluas 289 ha ini juga terdapat rumah-rumah betawi yang masih khas dan di sini kita dapat berbaur dengan masyarakat asli yang masih teguh memegang tradisi budaya Betawi. Semua pemandangan tersebut membuat hawa khas kampung si pitung ini menjadi lebih terasa.

Seperti halnya salah satu pengunjung, ibu Tati yang memilih Setu Babakan ini sebagai alternatif liburan karena selain tempatnya yang nyaman dan adem, tempat ini juga mudah dijangkau baik menggunakan angkutan umum ataupun kendaraan pribadi. Dengan adanya bagian informasi di dalam area wisata dapat membantu pengunjung untuk mengetahui lebih dalam baik mengenai Setu Babakan ini ataupun Budaya Betawi keseluruhan. Tidak hanya keindahan wisata tapi setu ini juga menyajikan berbagai pagelaran pertunjukan seni Khas Betawi mulai dari Qasidah, Marawis, Keroncong, Gambang Keromong, Lenong dan Gambus. Juga tak lupa tari Topeng dan Ondel-Ondel turut ditampilkan dengan apiknya.

Setiap hari area ini tak pernah sepi dari pengunjung, hanya dengan mengeluarkan Rp. 2000, kita dapat menikmati kenyamanan tempat dengan suasana adem dan rindang di tambah dengan arsitektur Betawi yang khas.


Penulis: Intan & Putri   I   Editor: Indra Nst   I   Admin: FA

Dari Redaksi (edisi VII)

Tahukah kalian apa yang terjadi hari ini? Ditengah modernitas, globalisasi, serta beragam fenomena berlatar keyakinan. Di satu sisi, bangsa barat menjual segenap modernitas dalam gaya hidup mewah, pergaulan bebas, pengkonsumsian barang high tech dan lain sebagainya. Sementara di sisi lain bangsa timur menggaungkan sejumlah dogmatisasi dalam berkeyakinan dan menjualnya dalam bentuk interpretasi beragama.

Lalu bagaimana dengan anak bangsa Indonesia? Pertanyaan itu tentu sedikit menggelitik rasa ingin tahu kita sebagai mahasiswa.

Pernahkah kalian menyimak film, membaca televisi dan mendengarkan surat kabar akhir-akhir ini? Sadarkah kalian betapa bangsa kita dipojokkan oleh bangsa kita sendiri. Media yang berperan sebagai public opinion secara terang-terangan meng’amin’i kalau bangsa kita ini bodoh, terbelakang dan berbudaya klenik, miskin serta tidak memiliki daya saing apa pun.

Anak-anak muda kita, khususnya kaum pelajar serta mahasiswa diajarkan untuk menjadi konsumen setia dari segala macam produk yang dimiliki oleh barat walaupun dibuat dan bahkan diproduksi di negara kita. Mulai dari sandang, kita begitu bangga tatkala bengenakan merk-merk ternama. Lalu pangan, kita sangat addict hingga muncul istilah “laper...? delivery order aja”. Tidak hanya itu, bahkan penggunaan alat-alat teknologi pun kita sangat mendewakan buatan luar negeri tanpa pernah belajar dan berusaha untuk membuatnya sendiri. Hingga kita rela berganti-ganti gadget berharga jutaan rupiah hanya untuk mengejar satu kata “gengsi”.

Lalu pernahkah kita melihat, atau bahkan turut masuk di dalam majelis-majelis berstempelkan agama tertentu. Kita diajarkan untuk “taat” sesuai dengan intepretasi dari suatu kelompok hingga membuat kita  menciptakan nabi-nabi baru yang bersorban, berjanggut, mengenakan jubah, bertasbih dan lain sebagainya. Sadarkah kita bahwa secara tidak langsung kita justru menyekutukan Dia.

Sungguh malang nasib anak bangsa kita hari ini, harus terus terhimpit dalam desakan dua arus kekuatan besar politik budaya yang mengancam kekayaan yang kita miliki.

Akhir kata, kami mengucapkan selamat merayakan Gong Xi Fa Cai, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, serta selamat hari Valentine, sebarkan kasih sayang bagi semua.

Salam SIKAP...!!!

Selasa, 08 Februari 2011

Dangdut: Cerita Sang Profesor

Lihatlah si Raja Dangdut berpose di depan kamera: rambut dan janggutnya sama-sama lebat, hitam, keriting, dan tidak tersisir rapi. Matanya mencoba menghindari kamera, menatap tajam ke satu titik, seakan-akan mau menunjukkan bahwa ia orang yang tengah membawakan misi penting. Tangan kirinya menggenggam sebuah gitar elektrik bertulisan nama grup musiknya: Soneta. Dan-ini yang menarik-tubuhnya, dari pinggang ke atas, tak terbungkus pakaian.

Dangdut Stories, yang ditulis profesor musik Andrew N. Weintraub dari Universitas Pittsburg, Amerika Serikat, memang tak mencoba menghindari kontroversi. Gambaran yang terpampang pada sampul Dangdut Stories di atas menunjukkan penampilan Rhoma Irama pada cover album perdananya 35 tahun silam (Begadang). Ia, Andrew Weintraub, membedakan Rhoma Muda dan Rhoma Tua, lebih tepat lagi Rhoma sebelum dan sesudah naik haji. Rhoma sesudah naik haji adalah sosok yang kita kenal sekarang dan sudah pasti tak sudi mengenakan pakaian panggung seperti di atas.

Dengan kerajinan dan kecermatan yang mengharukan, profesor ini mengomentari karakter musik Rhoma, dari lagu ke lagu, yang ternyata tak banyak berubah. Ya, inilah dangdut yang telah meninggalkan alat musik akustik orkes melayu yang penuh sopan-santun, dan mengadopsi instrumen musik rock yang berisik dan menggetarkan. Namun, tentang lirik, Weintraub menemukan perubahan cukup berarti. Setelah perjalanan ke Mekah itu (masih pada 1975), Rhoma tidak lagi menggubah lirik yang mengetengahkan "darah muda" yang menggelegak, melainkan seruan untuk meninggalkan gaya hidup yang hedonistis.

Dangdut musik yang penuh kontradiksi. Hingga detik ini, begitu banyak lagu dangdut yang mengandung kombinasi aneh: lirik yang meratap dan melankolis, dan irama riang memancing goyang. Rhoma percaya bahwa lirik memainkan peran penting, tapi tidak demikian halnya dengan beberapa penggubah dangdut, seperti Mansyur S. Sosok yang dikenal piawai membubuhkan melodi manis tapi lumayan njlimet ini yakin dangdut itu enak didengar dan digunakan untuk mengiringi goyang. Namun Weintraub mengajukan keberatan: kalau bukan karena kekuatan lirik, apa yang membuat orang hafal setiap kata dalam lagu-lagu itu. Musik tak berhenti pada musik, begitu juga lirik.

Menggunakan pendekatan etnomusikologis, antropologis, media, dan kajian budaya, Weintraub percaya bahwa musik sederhana ini telah memiliki jangkauan yang amat luas: ikut membentuk gagasan tentang etnik, gender, dan kelas dalam Indonesia kini. Tampil sebagai instrumen vote getter dalam kampanye pemilihan umum, menjadi primadona industri rekaman sepanjang 1990-2000-an, memancing diskursus kontroversial panjang tentang etika dan estetika dengan erotismenya-semua ini menunjukkan bahwa dangdut merupakan bagian dari kehidupan ekonomi, politik, dan ideologi. Dari sini tampaklah sumbangannya membentuk identitas masyarakat negeri ini sekarang.

Dangdut berawal dari kejadian politik ketika Presiden Sukarno berpaling dari Barat (baca: Eropa dan Amerika) ke Timur pada 1950-an. Secara kreatif para seniman musik Indonesia mulai belajar dan mengadopsi musik-musik yang dinyanyikan dalam film-film Mesir dan India yang merajai film impor kala itu. Dari pembentukan orkes melayu, hingga dangdut "naik kelas" berpuluh tahun kemudian, banyak kejadian dan fenomena yang menimpa musik ini. Weintraub mencoba menangkap ini dengan pendekatan antardisiplin akademisnya, seraya mewawancarai ratusan sumber, menyaksikan pertunjukan musik itu di pelosok-pelosok negeri, dan mendengarkan ribuan rekaman.

Tentu saja langkah ini layak membuat Dangdut Stories jadi rujukan bagi studi serupa tentang dangdut. Satu lagi yang patut dicatat adalah kerendahan hati Weintraub sewaktu membubuhkan judul yang membuka kemungkinan setiap orang mempunyai cerita sendiri tentang musik yang satu ini. Dangdut Stories berisi cerita orang, yang dalam penulisannya kemudian dimasak dengan teori formasi diskursif Michel Foucault khas Weintraub.

Dangdut Stories
Penulis: Andrew N. Weintraub
Penerbit: Oxford University Press, 2010
Tebal: 256 halaman


Sumber: Majalah Tempo   I   Penulis: Idrus F. Shahab   I   Admin: FA

Kamis, 27 Januari 2011

Potret Muram Sebuah Masyarakat Dystopia

NEVER LET ME GO

Sutradara   : Mark Romanek
Skenario     : Andrew Garland (Berdasarkan novel karya Kazuo Ishiguro)
Pemain       : Carey Mulligan, Keira Knightley, Andrew Garfield
          
Di sebuah dunia reka, Ishiguro membentang layar yang menampilkan masyarakat dystopia. Kira-kira rekaan itu adalah: Inggris di tahun 1970-an. Tersebutlah sebuah asrama di Hailsham yang menerapkan sebuah sistem ganjil. Anak-anak menempuh pendidikan tanpa mengetahui masa depan mereka. Hanya di kemudian hari, setelah mulai remaja mereka baru tahu bahwa mereka dipelihara agar kelak setelah dewasa, organ tubuhnya  satu-persatu disumbangkan kepada mereka yang sudah “memesan”.

Seperti juga pada novelnya, sutradara Mark Romaneck menceritakan ini semua dari sudut pandang Ruth (Carey Muligan) yang sejak kecil sudah tertarik pada Tommy (Andrew Muligan). Tetapi sejak kecil pula, sahabatnya sendiri, Kathy (Keira Knightley) yang karakternya sangat dominan dan licin berhasil merebut Tommy dari Ruth. Tetapi soal cinta segitiga ini adalah satu hal. Yang lebih memberatkan adalah bagaimana mereka setap hari mendekati hari-hari yang menentukan ketika lever, atau ginjal atau mata mereka digerogoti.

Ketiganya tumbuh bersama dan menatap masa depan mereka yang dekat dengan kematian. Romaneck menyajikan gambaran pantai yang kelabu dan murung, seperti juga nasib ketiga remaja itu dan murid –murid lainnya yang seolah tak mampu melawan nasib yang sudah digariskan ketika organ mereka satu demi satu diambil.

Yang menjadi problem dari film (yang bersetia pada novelnya) ini adalah konsep cerita ini. Novel (dan film) ini memberi sugesti tentang sebuah negara antarah berantah mirip Inggris  yang memiliki “polisi medis” yang menguasai kehidupan mereka. Sementara kita tak disajikan suasana “big brother is watching you” seperti dalam novel “1984” (George Orwell). Artinya ada banyak momen di mana trio Ruth, Tommy dan Kathy sebetulnya bisa saja kabur atau mencelat entah ke negara mana, asal jangan di neraka gila yang seenaknya mewajibkan mereka menggali-gali tubuh manusia.

Para remaja itu digambarkan pasrah pada ‘nasib’ yang digariskan negara pada mereka. ‘Pemberontakan’ itu hanya sampai pada saat Tommy dan Ruth yang saling mencintai mencoba meyakinkan Kepala Sekolah/Asrama bahwa Tommy memiliki bakat seni lukis yang luar biasa, dan mungkin saja dia bisa diberikan semacam dispensasi. Seni peran Andrew Garfield sungguh meremas hati. Luar biasa; melebihi apa yang sudah kita lihat dalam film Lions for Lambs (Robert Redford) , The Other Boleyn Girl(Justin Chadwick) dan Social Network (David Fincher). Mungkin hanya sosok Tommy yang diperankan Garfield inilah—meski sesaat-- yang memperlihatkan ‘kemarahan’ melalui kepedihan yang garang dan begitu pedih.

Kazuo Ishigiro adalah seorang novelis yang memang mementingkan atmosfer dalam novel-novelnya. Karya sebelumnya seperti Remains of the Day (1993) yang juga sudah diangkat menjadi film oleh James Ivory, dengan pemain Anthony Hopkins dan Emma Thompson l, sengaja menghindar hingar bingar Perang Dunia II. Ceritanya lebih berkutat pada seni melayani dan mengabdi yang anggun dari seorang pelayan, siapapun majikannya. Film Never Let Me Go, betapapun keji dan brutalnya sang Negara pada warganya, tetapi Kazuo Ishiguro menekankan keanggunan para tokohnya saat melalui detik-detik akhir hidupnya. Bahkan pada saat terakhir mereka melepas organnya satu-persatu, kita tak melihat selintasanpun caci-maki atau sumpah serapah para  tokoh itu.

Justru inilah yang membuat film ini sungguh muram. Kemana rasa marah dan pemberontakan itu? Kenapa tokoh-tokoh itu tampak lemah dan penurut? Di mata sutradara Romaneck, kekuatan manusia jelas kalah oleh lindasan Negara. Dan hingga akhir film, kita mencoba menghibur diri dengan menyatakan  bahwa ini hanyalah sebuah negara fiktif.

Leila S.Chudori

Kamis, 20 Januari 2011

Inilah Sosok Spider-Man Terbaru


Rasa penasaran para fansSpider-Man dengan penampilan Spider-Man yang terbaru diperankan oleh Andrew Garfield akan sedikit terjawab. Pasalnya Sony Pictures baru saja merilis gambar resmi untuk  tokohSpider-Man tersebut. 
Dalam gambarnya terlihat Andrew yang menggambarkan sosok Spider-Man dengan keadaan babak belur dan kostumnya yang berantakan. Sosok Peter Parker juga turut diperlihatkan dengan dibawanya sebuah tas di bahunya yang menandakan statusnya sebagai pelajar SMA.
Dalam gambar yang dilansirAceshowbiz tersebut juga menggambarkan kostumSpider-Man yang kini berbeda dari sebelumnya yang dikenakan oleh Tobey Maguire dalam trilogi Spider-Mangarapan Sam Raimi. Perubahan tersebut meliputi simbol laba-laba di dada dan material yang digunakan. Hal itu untuk menggambarkan tubuh Andrew yang lebih ramping dari Tobey.
Tapi yang paling mendapat perhatian adalah benda emas kecil yang melekat di pergelangan tangan. Sebagian orang percaya bahwa itu adalah sebuah alat penembak jaring laba-laba. Di dalam komik, penembak jaring laba-laba adalah alat yang dibuat sendiri oleh Spider-Man. Namun dalam film pertama Spider-Man, diputuskan untuk membuat penembak jaring laba-laba secara alami. Pasalnya para pembuat film tersebut berpikir tidak mungkin jika seorang anak sekolah SMA bisa menciptakan alat yang secanggih itu.
Spider-Man kini melakukan syuting di bawah arahan Marc Webb dengan bintang Emma Stone sebagai Gwen Stacy wanita impiannya. Sedangkan Rhys Ifans akan berperan sebagai karakter jahat yang sampai saat ini belum disebutkan nama karakternya. Film ini akan dibuat dalam format 3D dan dijadwalkan akan rilis di Amerika Serikat pada Juli 2012. (eM_Yu)


Sumber: 21cineplex.com   I   Admin: FA

Sabtu, 15 Januari 2011

Pasar Malam Alternatif Belanja Murah

Pasar malam dapat menjadi alternatif belanja murah. Perjuangan pedagang melawan ekspansi mal dan pasar swalayan.
VHRmedia, Jakarta - Bosan belanja di pasar tradisional atau mal? Belanja di pasar malam mungkin bisa jadi pilihan. Selain dekat dari rumah, harga di pasar malam biasanya lebih murah.

Di kawasan Palmerah, Kebayoran Baru, misalnya, sejumlah pedagang kaki lima menggelar pasar malam keliling di perumahan warga. Mereka membuka lapak dagangan di tanah lapang. Produk yang dijual beragam. Pakaian, pernak-pernik perhiasan, hingga aneka jajanan.

Ocha, pedagang asal Padang, mengatakan pasar malam menjadi alternatif pedagang kaki lima yang tidak memiliki lapak permanen di pasar tradisional. Biasanya pedagang mulai membuka lapak pukul 4 sore dan berakhir pukul 10 malam.

Jumlah pedagang di setiap lokasi pasar malam tergantung kapasitas tanah lapang. Siapa pun bebas berdagang, asal membayar sewa lapak Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu.

”Kalau ada pasar malam kan warga tidak perlu repot. Pedagang yang mendatangi warga,” kata Ocha di pasar malam kawasan Haji Pekir, Palmerah, Jakarta Selatan, Kamis (13/1).

Menurut Ocha, pendapatan buka lapak di pasar malam tidak kalah dari berdagang di pasar tradisional. Pendapatan di pasar malam naik pada malam Minggu dan akhir bulan setelah gajian.

Wiwi (29), warga Pulo Melati, Palmerah, mengaku berlangganan belanja di pasar malam. Meski harus berjalan kaki, dia kerap menyambangi beberapa pasar malam di kawasan Palmerah. Terutama pada akhir pekan. ”Seminggu bisa dua kali ke pasar malam. Lumayan dekat dari rumah daripada ke pasar. Harganya juga bisa ditawar lebih murah,” katanya. (E1)



Sumber: VHR Media   I   Foto: VHRmedia/Ema Arifah

Rabu, 12 Januari 2011

Ulang Tahun ke-4 Sanggar Atap Alis

Obsesi Sang Narsis

Oleh Mira W
SINOPSIS
`Saya masih mencintai Perinia, Bu,` sahut Aditya jujur. `Walaupun dia tidak berada di ranjang saya, dia selalu berada di pikiran saya.``Kau pasti sudah sinting!` dengus ayahnya geram.`Mungkin dia diguna-guna!`sambung Sriningsih muak.`Bukan,` tukas Hadijaya dingin. `Dia sakit. Perempuan itu sudah menjadi obsesinya.`Setelah sepuluh tahun menikah, Perinia menuntut perceraian. Dia tidak tahan lagi menjadi istri yang sangat dikekang suaminya. Ternyata impiannya meraih kebebasan bukan impian yang indah. Karena yang dihadapinya bukan hanya suaminya. Tapi juga keluarganya yang sakit.Satu per satu korban berjatuhan. Tak ada yang dapat dijerat hukum. Sampai suatu hari, tali itu menjerat leher mereka sendiri...Dan Perinia sadar, kuntum cinta itu ternyata berada di balik semak berduri. Kuntum yang baru dapat diraihnya setelah onak duri melukai tubuhnya.

Film "127 Hours" Paling Dibajak


Jakarta,- Film 127 Hours pesaing berat para nominasi Penghargaan Oscar, merupakan film  yang paling banyak dibajak pekan ini.


Film yang dibintangi James Franco tersebut sudah  beredar di situs-situs, tulis hollywoodreporter.com, Rabu.Belum jelas apakah bocornya salinan film itu merupakan dorongan untuk memperoleh penghargaan oleh Fox Searchlight. Perusahaan itu telah mengirimkan salinan itu ke bermacam kelompok pemilih.


Film lain yang paling terbajak juga adalah Inception dan True Grit 


Berikut daftar Film Paling terbajak, berdasarkan TorrentFreak :

  1. 127 Hours
  2. Megamind
  3. Little Fockers
  4. Inception
  5. TRON: Legacy
  6. Ultramarines
  7. Death Race 2
  8. True Grit
  9. Saw 3D
  10. Tees Maar Khan

Sementara itu, Dalam dunia musik,lagu terbaru britney yang berjudul "Dont Hold It Against Me", mulai bisa dibeli lewat  iTunes selasa (11/1).Sebelum hal itu terjadi, lagu itu telah bocor dan menjadi sebuah komoditi panas (yang disebut sebut sebagai karya terbaiknya selama bertahun tahun).

Bocornya lagu itu  menyebabkan Spears mempercepat peluncuran lagu tersebut. Disebut-sebut, penyanyi itu memberi kejutan para penggemarnya dengan menaruh lagu itu di radio sehari sebelum peluncurannya di iTunes.

Sumber : AntaraNews   I   (yud/A038/BRT)
COPYRIGHT © 2011